MAKALAH SEJARAH AFRIKA
Tentang
MESIR DAERAH
PENGARUH INGGRIS
Oleh :
MELA ANGGRAINI : 412.177
Dosen Pembimbing Lapangan
Dr. Anatona Gulo,
M.Hum
JURUSAN
TADRIS IPS KONSENTRASI SEJARAH
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM
BONJOL PADANG
1436
H/ 2015 M
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mesir merupakan salah satu negara
imperialisme Inggris, mesir adalah jalan bagi Inggris untuk menuju India.
Inggris melakukan ekspansi ekonomi kewilayah Mesir melalui terusan suez.
Terusan Suez merupakan jalur bai Inggris dalam mengembangkan Imperialismenya di
Mesir. Dalam bidang ekonomi Inggris membeli saham-saham yang ada di Mesir.
Dalam bidang politik Inggris mejadikan
Mesir sebagai kerajaan konstitusional
B. Rumusan Masalah
Pada
makalah ini pemakalah membahas :
1. Arti Terusan Suez Bagi Imperialis
Inggris
2. Ahmad Arabi
mempimpin gerakan Nasional Mesir
3. Perlawanan
Sudan terhadap Inggris—Mesir
BAB
II
PEMBAHASAN
MESIR,
DAERAH PENGARUH INGGRIS
Keterangan :
F : Negara Mesir
A.
Arti Terusan Suez Bagi Imperialis Inggris
Selama sebagian besar abad kedelapan perhatian Inggris terhadap Afrika
kecil. Sejak terusan Suez dibuka pada
1869 yang dipandang sebagai jalan raya vital menuju India,menambah
secara besar-besaran nilai strategis Mesir, Inggris mulai menaruh perhatian
terhadap Mesir. Cita-cita ini memperluas pengaruhnya ke negeri “Hadiah Sungai
Nil” ini direalisasi oleh Benjamin Disraeli. Bersama Salisbury, Disraeli
mewakili golongan “Empire” atau golongan “imperialisme”. Cita-cita golongan ini
ialah melakukan perluasan kerajaan Inggris dan mempererat kembali hubungan
antara koloni dan negeri induk, sehingga tercapailah suatu Empire yang meliputi
seluruh dunia. Sebaliknya pesaingannya golongan Gladstone, yang disebut kaum
pasifis atau Litlle Englander, mengkhendaki pemusatan perhatian kepada
masalah-masalah pembangunan dalam negeri. [1]
Pada 1875, Disraeli
mendengar berita bahwa mesir akan menjual sahamnya yang ada dalam Maskapal
Terusan Suez kepada pemerintahan Perancis, ia menggunakan kesempatan itu untuk
memperluas pengaruh negerinya. Lord
Derby, menteri luar negerinya, dan Norlhcote, menteri keuangannya tidak setuju
dengan maksud negeri ini. Tanpa menunggu pengesahan Parlemen yang juga sukar
diperolehnya, ia meminjam uang dari bank Rostchilds sebesar £ 4.080.000 dan
dibelinya saham Khedive sebanyak 176.602 buah. Pembelian ini meliputi 44% dari
saham Mesir di Maskapai Terusan Suez. Tindakan Disraeli ini mengakibatkan
perhatian dan kepentingan Inggris di Terusan Suez sama besarnya dengan
kepentingan Perancis di daerah tersebut. Oleh sebab itu kedua negeri imperialis
tersebut selalu bersaingan berebut pengaruh di Mesir. Konflik ini berlangsung
lama dan baru dappat diatasi pada 1904 dengan dicapainya Morocco-Egyptian
Agreement.
Benjamin Disraeli PM Inggris yang
memelopori pembelian saham Maskapai Terusan Suez dari Khedive Ismail
Saat Terusan
Suez itu dibuka, Disraeli telah menyadari betapa pentingnya terusan tersebut
adalah kunci untuk menghubungkan Inggris dan India. Oleh karena, ia
bercita-cita membentuk suatu imperium dan akan menjadikan India sebagai dasar
terbentuknya Imperium Britania Britania Raya, maka jalan-jalan yang menuju ke
India baik yang melalui Tanjung Harapan maupun Suez, harus ada dalam tangannya.
B. Ahmad Arabi mempimpin gerakan Nasional
Mesir
Khedevi Ismail
(1863-18897) adalah penguasa yang sangat boros. Selama ia memerintah uang yang
ia habiskan sebesar 90 juta pound yang digunakan untuk pembangunan dan
sebagainya. Selain itu ia juga memberikan upeti kepada Sultan Turki sebagai
ungkapan terima kasih karena telah menganugerahkan sebutan Khedive kepadanya,
sebagai ganti sebutan Pasha. Tahun 1863, jumlah hutang mesir hanya 3 juta pound
namun melesat jauh menjadi 80 juta pada
tahun 1876. Untuk mencegah timbulnya kebangkrutan negara, Ismail menjual
saham-sahamnya yang ada dalam Maskapai Terusan Suez. Ketika Mesir hampir bangkrut tidak dapat
membayar utang uang luar negerinya dan terancam dengan pemberontakan dalam
negeri, Inggris campur tangan sebagai “pelindung”.
Namun uang yang diterima tidak dapat menutupi kekurangan
kas negeri Mesir. Pada tahun selanjutnya Khedeve Ismali menghadapi kebangkrutan
lagi. sehingga ia mengajukan permintaan pinjaman kepada perancis dan Inggris.
Pemerintah Inggris mengirimkan Stephen Cave untuk meneliti hal-hal yang berhubungan
dengan keuangan Mesir. Dengan ini maka dibentuklah panitia pengawasan
internasional bernama Comite pourle Dette Publique (1876) yang beranggotalan
Inggris, Austria, Italia, Prancis dan Jerman. Pembaharuan-pembaharuan diadakan
baik dalam lapangan politik maupun keuangan. Intrvensi Barat tersebut dirasakan
sangat berat oleh Khediv. Ketika ia tahu bahwa tuan-tuan tanah juga tidak puas
terhadap pembaharuan itu maka ia mencoba melakukan sabotage terhadap
pelaksanaan peraturan-peraturan yang telah disusun oleh menteri-menteri asing
didalam kabinetnya. Kemudian Khedive memecat menteri-menteri asing tersebut.
Namun tindakan ini ditentang oleh Inggris dan Perancis. Kedua negeri ini
meminta Ismail untuk meletakkan jabatan namun di tolak kemudian Inggris dan Perancis
membujuk sultan Turki untuk memecat Ismail. Dan kemudian digantikan oleh
Tewfik, anak Ismail.[2]
Khedevi baru dipaksa oleh kedua negara tersebut untuk
mengembalikan adanya pengawasan terhadap keuangan Mesir. Setelah itu dibuatlah
anggaran baru, penarikan pajak diperberat terutama bagi tuan-tuan tanah Mesir.
Penasihat Inggris-Prancis mengurangi gaji pegawai dan opsir-opsir tentara.
Dengan ini mengakibatkan munculnya gerakan nasionalisme di Mesir. Pemimpin
gerakan tersebut ialah Kolonel Ahmad Arabi. Pada 1881 mereka memaksa Khedevi
mengundang “Perwakilan orang-orang terbuka”
untuk bersidang yang dimana sidang tersebut menuntut diadakannya kabinet
yang lebih baik. Pada 1882 Tewfik dipaksa untuk mengangkat Arabi sebagai
menteri pertahanan.
Arabi Pasha pemimpin sekaligus
Pioneer bagi gerakan Nasionalisme Mesir.
Sejak 1880 hingga 1885 Pemerintahan di Inggris dipegang
oleh Gladstone, kabinet Gladstone kedua tidak dapat memenuhi cita-cita partai
liberal, menjalankan politik pasifistis, melakukan penghematan dan pembaharuan.
Disamping itu juga karena suara publik makin hari bernada imperialistis. Dengan
ini penguasaan Inggris terhadap Mesir dilakukan oleh suatu pemerintahan yang
dipimpin oleh tokoh liberal. Senagai
reaksi terhadap tantangan kaum nasionalis Mesir, pemerintah Gladstone di
Inggris dan Gamvetta di Perancis mengumumkan bahwa mereka akan melindungi
Khedive dari musuh-musuh dalam maupun luar negeri. Mereka menuntut pula untuk
agar Arabi dibebastugaskan dari jabatan menteri. Tuntutan Inggris ini membuat
berkobarnya semangat anti asing. Di iskandaria saat itu timbul keributan dan
membuat ±50 warga menjadi korban.
Pada juli 1882, Admiral Seymour memerintahkan agar
kapal-kapal perang Inggris memuntahkan peluru-pelurunya. Pada saat-saat yang
kritis itu, kapal-kapal Perancis bahkan meninggalkan Iskandaria yang sedang
dibom Inggris saat itu. Inggrispun meminta bantuan kepada Turki dan Italia
namun kedua negeri tersebut menolak permintaan tersebut maka Inggris bertindak
sendiri. Akhirnya pada tahun 1882 kekuatan Arabi dapat dipatahkan dalam
pertempuran di Tel-el-kebir. Dengan demikian kekuasaan Tewfik dikembalikan dan
Arabi diasingkan ke Sailan.
Dengan begitu keuangan di atur kembali dan Inggris
mengawasi pengeluaran Mesir. Untuk mengatur keuangan Inggris, Gladstone
mengangkat Sir Evelyn Baring atau dikenal dengan Lord Cromer. Pada tahun 1882
Bismarck dan anggota Triple Alliance lainnya (AustroHungaria dan Italy)
mengajukan protes terhadap tindakan tersebut dan menuntut diadakan konferensi
Eropa untuk membahas-masalah Mesir. Kemudian diadakan koferensi yang
dilangsungkan di Istanbul. Dalam tahun 1882, kira-kira 80% kapal-kapal yang
melalui Terusan Suez berbendera kebangsaan Inggris. Perancis merupakan pesaing
Inggris terbesar di Mesir.
C. Perlawanan
Sudan terhadap Inggris—Mesir
Ketika Ismail menjadi Khedive di Mesir, ia ingin
meluaskan kekuasaannya ke Sudan sebelah selatan. Pada 1869 untuk memenuhi cita-cita tersebut
maka dilaksanakan dan sebuah pemerinntahsn dibentuk di Bahr el Ghazal. Kemudian
ia menunjuk Sir Samuel Baker sebagai Gubernur Jenderal. Baker diperintahkan agar menanamkan kekuasaan
Khedevi di daerah sebelah selatan Gondokoro, memasukan sistem perdagangan yang
teratur dan sebagainya. Setelah kontrak Baker habis dan ia telah menaklukan
daerah-daerah Equatoria. Kemudian ia
digantikan oleh Gubernur Jenderal Charles George Gordon. Saat ia bertugas
banyak sekali kesulitan yang dihadapi. Ketidakpuasan dan pemberontakan di
beberapa daerah mulai timbul. Pada tahun 1881 meletuslah pemberontakan yang dipimpin
oleh Mahdi atau yang bernama lengkap Mohammad Ibn Al Saiyid ‘Abd Allah, ia
merupakan guru agama yang mempunyai pengikut dalam jumlah besar.
Sebab-sebab pemberontakannya adalah
1. Menentang
ekspolitasi secara besar-besaran baik terhadap kekayaan alam, maupun terhadap
penduduk.
2. Tenaga pegawai
untuk daerah Sudan ternyata terdiri atas orang-orang yang tidak bertanggung
Jawab.
3. Walaupun
kekuasaan Khedive dapat diperluas hingga meliputi Darfur, Equatoria dan pantai
laut Merah, tetapi untuk melakukan konsolidasi ternyata amat sukar.
Inggris
bergerak lebih jauh ke selatan memasuki sudan, memadamkan perang suci muslim
melawan otoritas Mesir dan pengaruh Inggris. Mahdi melakukan revolusi selama
tiga tahun (1881-1884) dengan hasil yang gemilang. Ketika El Obeid jatuh ke
tangan Mahdi, kota Khartoum berada dalam bahaya. Pada 1883 Hicks Pasha seorang
kolonel Inggris didatangkan ke Khartoum, diangkat sebagai wakil panglima dan
Ala’al-Din Pasha di angkat menjadi gubernur Jenderal di Sudan. Akan tetapi
ekspedisi Hicks inipun mengalami kegagalan dan ini berarti Mahdi menguasai
sebelah barat. Ketika pemberontakan dimulai, muncullah seorang pemimpin yang
bernama Uthman Diqna di Sudan sebelah Timur. Ia merasa sakit hati karena usaha
perdagangan budaknya ditindas oleh pemerintahan Mesir. Ia menemui Mahdi di El
Obeid dan diperintahkan oleh Mahdi untuk merebut bandar-bandar penting di
pantai Timur dan menutup jalan Suakin- Berber. Kapten Monerieff, R.N konsul
Inggris di Suakin dibunuh bersama 148 orang lainnya. Dengan ini maka tentara
Mesir diserang baik dari Jurusan Barat maupun Timur. Kemenangan-kemenangan kaum pemberontak
membuat tentara yang di pimpin Hicks mengalami kesulitan. Kehancuran ekspedisi
Hicks membuat tentara Mesir di tarik kembali dari Sudan sebelah Barat dan
Selatan akan tetapi mereka tetap mempertahankan kota yang belum di kuasai oleh
Mahdi.
Baring
menyarankan kepada Khedevi untuk penaklukan Sudan disabarkan dahulu karena pada
waktu itu Mesir sama sekali tidak mempunyai kekuatan baik berupa uang maupun
tenaga. Tetapi keputusan itu di tolak, ia mengirimkan Jenderal Valentine Baker
untuk merebut kembali Sinkat dan Tokar namun gagal.
Pada 1884
Gladstone mengirimkan Jenderal Charles Gordon Pasha, yang merupakan bekas
Gubernur Jenderal Sudan akan tetapi Gordon meremehkan kekuatan dan pengaruh
Mahdi. Setibanya di Cairo Gordon menemui Khedevi, Baring dan pembesar-pembesar
Mesir lainnya. Selanjutnya Gordon melakukan penyelidikan-penyelidikan. Kemudian
ia berpendapat jika Khartoum jatuh ke tangan Mahdi, maka akan sangat sukarlah
kota itu direbut kembali. Situasi kota Khartaoum menjadi sangat kritis. Pengikut
Mahdi telah mendekati ibu kota tersebut. Mahdi mendesak Gordon untuk
menyerahkan dirinya kepada Mahdi namun tidak ada jawaban dari Gordon kemudian
Mahdi mendesak sekali lagi agar Gordon menyerah namun menolak. Akhirnya gordon
bersama tentaranya di kepung oleh kaum Mahdi. Pada 25 Januari 1885, orang sudan
yang dipimpin oleh Mahdi, yang menganggap dirinya penerus muhamad, merebut
khartoum dan membunuh Jenderal Gordon, yang telah diutus untuk memimpin pasukan
Mesir.[3]
Pada 1898, Inggris, dilengkapi dengan senapan
mesin memberondong kaum Muslimin yang menyerang di Omdurman. Korban dilaporkan
sebelas ribu Muslim dan dua puluh delapan pasukan Inggris. Berita tentang
jatuhnya kota Khartoum dan kematian Gordon membuat hati ratu Victoria bergetar
dan suara publik Gordon membela kematian Inggris. Setelah Gladstone jatuh maka
naiklah Salisbury untuk menjabat perdana menteri baru dan ia melanjutkan
politik Gladstone . Beberapa bulan Khartoum jatuh, Mahdi meninggal dunia.
Pemerintahan Sudan dipegang oleh anaknya, Khalifa ‘Abd Allahi el Tarishi.
Selama tiga belas tahun Sudan menjadi negara merdeka. Pada 1896 timbullah
perselisihan lagi tentang Sudan.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
ketika terusan Suez di buka Inggris menaruh perhatian terhadap Mesir karena mereka menyadari bahwa Terusan
Suez adalah jalan menuju ke India dan Mesir adalah sebuah kedai ke jalan itu.
Ketika Khedevi Ismail mengalami kebangkrutan, ia menjual saham terusan Suez dan
tentu saja Inggris tidak melewatkan kesempatan itu. Namun uang yang digunakan
untuk menutup kekurangan kas negeri tidaklah cukup sehingga Khedevi Ismail
mengajukan peminjaman kepada Perancis dan Inggris yang dimana nanti timbul
pembaharuan yang memberatkan tuan tanah di Mesir. Sehingga menyebabkan turunnya
Khedevi Ismail. Ia digantikan oleh anaknya. Saat Tewfik berkuasa muncullah
gerakan nasionalisme yang dipimpin oleh Ahmad Arabi. Namun gerakan tersebut
berhasil dipadamkan pada tahun 1882. Sebelum terjadinya gerakan nasionalisme
yang dipimpin oleh Ahmad Warabi. Sudah juga muncul perlawanan oleh Mahdi,
seorang guru agama yang melawan tindakan Mesir dan Inggris yang ingin menguasai
Sudan. Sebelum Khedevi Ismail turun dari jabatannya, ia mempunyai cita-cita
untuk meluaskan kekuasaannya ke Sudan sebelah selatan. Namun peluasan ini tidak
berjalan mulus. Muncullah pemberontakan yang dipimpin oleh Mahdi. Pemberontakan
yang melentus pada tahun 1881. Mahdi berhasil melangsungkan revolusi selama
tiga tahun dengan hasil yang gemilang. Ketika Mahdi berhasil menguasai Khartoum
maka ditariknya kembali tentara Inggris-Mesir dari Sudan pada 1885, maka
berakhirlah pertentangan taraf pertama antara Inggris-Mesir di satu pihak dan
Sudan di pihak lainnya
B. Saran
Demikanlah
makalah ini kami buat, semoga bermanfaat bagi kita semua terutama bagi
pemakalah sendiri. Kami menyadari dalam penulisan makalah ini banyak terdapat
kesalahan atau kekurangan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari pembaca.
DAFTAR
PUSTAKA
Soeratman,Darsiti.2012.
Sejarah Afrika.Yogyakarta : Ombak
Encyclopedia , Amerikana. 1997. Jilid 10 Egypt. Glorier
Incorporated
SEMOGA BERMANFAAT
BalasHapus