Rabu, 24 Februari 2016

sejarah afrika

 MAKALAH SEJARAH AFRIKA
Tentang
MESIR DAERAH PENGARUH INGGRIS



 



Oleh :
MELA  ANGGRAINI : 412.177

Dosen Pembimbing Lapangan
Dr. Anatona Gulo, M.Hum


JURUSAN TADRIS IPS KONSENTRASI SEJARAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM BONJOL PADANG
1436 H/ 2015 M
                                                           





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Mesir merupakan salah satu negara imperialisme Inggris, mesir adalah jalan bagi Inggris untuk menuju India. Inggris melakukan ekspansi ekonomi kewilayah Mesir melalui terusan suez. Terusan Suez merupakan jalur bai Inggris dalam mengembangkan Imperialismenya di Mesir. Dalam bidang ekonomi Inggris membeli saham-saham yang ada di Mesir. Dalam bidang politik Inggris mejadikan  Mesir sebagai kerajaan konstitusional  


B.     Rumusan Masalah
Pada makalah ini pemakalah membahas :
1.      Arti Terusan Suez Bagi Imperialis Inggris
2.      Ahmad Arabi mempimpin gerakan Nasional Mesir
3.      Perlawanan Sudan terhadap Inggris—Mesir






BAB II
PEMBAHASAN
MESIR, DAERAH PENGARUH INGGRIS
 



  




 
            Keterangan :
F   : Negara Mesir
A.    Arti Terusan Suez Bagi Imperialis Inggris
Selama sebagian besar abad kedelapan perhatian Inggris terhadap Afrika kecil. Sejak terusan Suez dibuka pada  1869 yang dipandang sebagai jalan raya vital menuju India,menambah secara besar-besaran nilai strategis Mesir, Inggris mulai menaruh perhatian terhadap Mesir. Cita-cita ini memperluas pengaruhnya ke negeri “Hadiah Sungai Nil” ini direalisasi oleh Benjamin Disraeli. Bersama Salisbury, Disraeli mewakili golongan “Empire” atau golongan “imperialisme”. Cita-cita golongan ini ialah melakukan perluasan kerajaan Inggris dan mempererat kembali hubungan antara koloni dan negeri induk, sehingga tercapailah suatu Empire yang meliputi seluruh dunia. Sebaliknya pesaingannya golongan Gladstone, yang disebut kaum pasifis atau Litlle Englander, mengkhendaki pemusatan perhatian kepada masalah-masalah pembangunan dalam negeri. [1]
Pada 1875, Disraeli mendengar berita bahwa mesir akan menjual sahamnya yang ada dalam Maskapal Terusan Suez kepada pemerintahan Perancis, ia menggunakan kesempatan itu untuk memperluas pengaruh negerinya.  Lord Derby, menteri luar negerinya, dan Norlhcote, menteri keuangannya tidak setuju dengan maksud negeri ini. Tanpa menunggu pengesahan Parlemen yang juga sukar diperolehnya, ia meminjam uang dari bank Rostchilds sebesar £ 4.080.000 dan dibelinya saham Khedive sebanyak 176.602 buah. Pembelian ini meliputi 44% dari saham Mesir di Maskapai Terusan Suez. Tindakan Disraeli ini mengakibatkan perhatian dan kepentingan Inggris di Terusan Suez sama besarnya dengan kepentingan Perancis di daerah tersebut. Oleh sebab itu kedua negeri imperialis tersebut selalu bersaingan berebut pengaruh di Mesir. Konflik ini berlangsung lama dan baru dappat diatasi pada 1904 dengan dicapainya Morocco-Egyptian Agreement. 

              
Benjamin Disraeli PM Inggris yang memelopori pembelian saham Maskapai Terusan Suez dari Khedive Ismail
Saat Terusan Suez itu dibuka, Disraeli telah menyadari betapa pentingnya terusan tersebut adalah kunci untuk menghubungkan Inggris dan India. Oleh karena, ia bercita-cita membentuk suatu imperium dan akan menjadikan India sebagai dasar terbentuknya Imperium Britania Britania Raya, maka jalan-jalan yang menuju ke India baik yang melalui Tanjung Harapan maupun Suez, harus ada dalam tangannya.
B.     Ahmad Arabi mempimpin gerakan Nasional Mesir
Khedevi Ismail (1863-18897) adalah penguasa yang sangat boros. Selama ia memerintah uang yang ia habiskan sebesar 90 juta pound yang digunakan untuk pembangunan dan sebagainya. Selain itu ia juga memberikan upeti kepada Sultan Turki sebagai ungkapan terima kasih karena telah menganugerahkan sebutan Khedive kepadanya, sebagai ganti sebutan Pasha. Tahun 1863, jumlah hutang mesir hanya 3 juta pound namun melesat jauh menjadi 80  juta pada tahun 1876. Untuk mencegah timbulnya kebangkrutan negara, Ismail menjual saham-sahamnya yang ada dalam Maskapai Terusan Suez.  Ketika Mesir hampir bangkrut tidak dapat membayar utang uang luar negerinya dan terancam dengan pemberontakan dalam negeri, Inggris campur tangan sebagai “pelindung”.
Namun uang yang diterima tidak dapat menutupi kekurangan kas negeri Mesir. Pada tahun selanjutnya Khedeve Ismali menghadapi kebangkrutan lagi. sehingga ia mengajukan permintaan pinjaman kepada perancis dan Inggris. Pemerintah Inggris mengirimkan Stephen Cave untuk meneliti hal-hal yang berhubungan dengan keuangan Mesir. Dengan ini maka dibentuklah panitia pengawasan internasional bernama Comite pourle Dette Publique (1876) yang beranggotalan Inggris, Austria, Italia, Prancis dan Jerman. Pembaharuan-pembaharuan diadakan baik dalam lapangan politik maupun keuangan. Intrvensi Barat tersebut dirasakan sangat berat oleh Khediv. Ketika ia tahu bahwa tuan-tuan tanah juga tidak puas terhadap pembaharuan itu maka ia mencoba melakukan sabotage terhadap pelaksanaan peraturan-peraturan yang telah disusun oleh menteri-menteri asing didalam kabinetnya. Kemudian Khedive memecat menteri-menteri asing tersebut. Namun tindakan ini ditentang oleh Inggris dan Perancis. Kedua negeri ini meminta Ismail untuk meletakkan jabatan namun di tolak kemudian Inggris dan Perancis membujuk sultan Turki untuk memecat Ismail. Dan kemudian digantikan oleh Tewfik, anak Ismail.[2]
Khedevi baru dipaksa oleh kedua negara tersebut untuk mengembalikan adanya pengawasan terhadap keuangan Mesir. Setelah itu dibuatlah anggaran baru, penarikan pajak diperberat terutama bagi tuan-tuan tanah Mesir. Penasihat Inggris-Prancis mengurangi gaji pegawai dan opsir-opsir tentara. Dengan ini mengakibatkan munculnya gerakan nasionalisme di Mesir. Pemimpin gerakan tersebut ialah Kolonel Ahmad Arabi. Pada 1881 mereka memaksa Khedevi mengundang “Perwakilan orang-orang terbuka”  untuk bersidang yang dimana sidang tersebut menuntut diadakannya kabinet yang lebih baik. Pada 1882 Tewfik dipaksa untuk mengangkat Arabi sebagai menteri pertahanan.
 
Arabi Pasha pemimpin sekaligus Pioneer bagi gerakan Nasionalisme Mesir.
Sejak 1880 hingga 1885 Pemerintahan di Inggris dipegang oleh Gladstone, kabinet Gladstone kedua tidak dapat memenuhi cita-cita partai liberal, menjalankan politik pasifistis, melakukan penghematan dan pembaharuan. Disamping itu juga karena suara publik makin hari bernada imperialistis. Dengan ini penguasaan Inggris terhadap Mesir dilakukan oleh suatu pemerintahan yang dipimpin oleh tokoh liberal.  Senagai reaksi terhadap tantangan kaum nasionalis Mesir, pemerintah Gladstone di Inggris dan Gamvetta di Perancis mengumumkan bahwa mereka akan melindungi Khedive dari musuh-musuh dalam maupun luar negeri. Mereka menuntut pula untuk agar Arabi dibebastugaskan dari jabatan menteri. Tuntutan Inggris ini membuat berkobarnya semangat anti asing. Di iskandaria saat itu timbul keributan dan membuat ±50 warga menjadi korban.
Pada juli 1882, Admiral Seymour memerintahkan agar kapal-kapal perang Inggris memuntahkan peluru-pelurunya. Pada saat-saat yang kritis itu, kapal-kapal Perancis bahkan meninggalkan Iskandaria yang sedang dibom Inggris saat itu. Inggrispun meminta bantuan kepada Turki dan Italia namun kedua negeri tersebut menolak permintaan tersebut maka Inggris bertindak sendiri. Akhirnya pada tahun 1882 kekuatan Arabi dapat dipatahkan dalam pertempuran di Tel-el-kebir. Dengan demikian kekuasaan Tewfik dikembalikan dan Arabi diasingkan ke Sailan.
Dengan begitu keuangan di atur kembali dan Inggris mengawasi pengeluaran Mesir. Untuk mengatur keuangan Inggris, Gladstone mengangkat Sir Evelyn Baring atau dikenal dengan Lord Cromer. Pada tahun 1882 Bismarck dan anggota Triple Alliance lainnya (AustroHungaria dan Italy) mengajukan protes terhadap tindakan tersebut dan menuntut diadakan konferensi Eropa untuk membahas-masalah Mesir. Kemudian diadakan koferensi yang dilangsungkan di Istanbul. Dalam tahun 1882, kira-kira 80% kapal-kapal yang melalui Terusan Suez berbendera kebangsaan Inggris. Perancis merupakan pesaing Inggris terbesar di Mesir.

C.      Perlawanan Sudan terhadap Inggris—Mesir
Ketika Ismail menjadi Khedive di Mesir, ia ingin meluaskan kekuasaannya ke Sudan sebelah selatan.  Pada 1869 untuk memenuhi cita-cita tersebut maka dilaksanakan dan sebuah pemerinntahsn dibentuk di Bahr el Ghazal. Kemudian ia menunjuk Sir Samuel Baker sebagai Gubernur Jenderal.  Baker diperintahkan agar menanamkan kekuasaan Khedevi di daerah sebelah selatan Gondokoro, memasukan sistem perdagangan yang teratur dan sebagainya. Setelah kontrak Baker habis dan ia telah menaklukan daerah-daerah Equatoria.  Kemudian ia digantikan oleh Gubernur Jenderal Charles George Gordon. Saat ia bertugas banyak sekali kesulitan yang dihadapi. Ketidakpuasan dan pemberontakan di beberapa daerah mulai timbul. Pada tahun 1881 meletuslah pemberontakan yang dipimpin oleh Mahdi atau yang bernama lengkap Mohammad Ibn Al Saiyid ‘Abd Allah, ia merupakan guru agama yang mempunyai pengikut dalam jumlah besar.
Sebab-sebab pemberontakannya adalah
1.      Menentang ekspolitasi secara besar-besaran baik terhadap kekayaan alam, maupun terhadap penduduk.
2.      Tenaga pegawai untuk daerah Sudan ternyata terdiri atas orang-orang yang tidak bertanggung Jawab.
3.      Walaupun kekuasaan Khedive dapat diperluas hingga meliputi Darfur, Equatoria dan pantai laut Merah, tetapi untuk melakukan konsolidasi ternyata amat sukar.
Inggris bergerak lebih jauh ke selatan memasuki sudan, memadamkan perang suci muslim melawan otoritas Mesir dan pengaruh Inggris. Mahdi melakukan revolusi selama tiga tahun (1881-1884) dengan hasil yang gemilang. Ketika El Obeid jatuh ke tangan Mahdi, kota Khartoum berada dalam bahaya. Pada 1883 Hicks Pasha seorang kolonel Inggris didatangkan ke Khartoum, diangkat sebagai wakil panglima dan Ala’al-Din Pasha di angkat menjadi gubernur Jenderal di Sudan. Akan tetapi ekspedisi Hicks inipun mengalami kegagalan dan ini berarti Mahdi menguasai sebelah barat. Ketika pemberontakan dimulai, muncullah seorang pemimpin yang bernama Uthman Diqna di Sudan sebelah Timur. Ia merasa sakit hati karena usaha perdagangan budaknya ditindas oleh pemerintahan Mesir. Ia menemui Mahdi di El Obeid dan diperintahkan oleh Mahdi untuk merebut bandar-bandar penting di pantai Timur dan menutup jalan Suakin- Berber. Kapten Monerieff, R.N konsul Inggris di Suakin dibunuh bersama 148 orang lainnya. Dengan ini maka tentara Mesir diserang baik dari Jurusan Barat maupun Timur.  Kemenangan-kemenangan kaum pemberontak membuat tentara yang di pimpin Hicks mengalami kesulitan. Kehancuran ekspedisi Hicks membuat tentara Mesir di tarik kembali dari Sudan sebelah Barat dan Selatan akan tetapi mereka tetap mempertahankan kota yang belum di kuasai oleh Mahdi.
Baring menyarankan kepada Khedevi untuk penaklukan Sudan disabarkan dahulu karena pada waktu itu Mesir sama sekali tidak mempunyai kekuatan baik berupa uang maupun tenaga. Tetapi keputusan itu di tolak, ia mengirimkan Jenderal Valentine Baker untuk merebut kembali Sinkat dan Tokar namun gagal.
Pada 1884 Gladstone mengirimkan Jenderal Charles Gordon Pasha, yang merupakan bekas Gubernur Jenderal Sudan akan tetapi Gordon meremehkan kekuatan dan pengaruh Mahdi. Setibanya di Cairo Gordon menemui Khedevi, Baring dan pembesar-pembesar Mesir lainnya. Selanjutnya Gordon melakukan penyelidikan-penyelidikan. Kemudian ia berpendapat jika Khartoum jatuh ke tangan Mahdi, maka akan sangat sukarlah kota itu direbut kembali. Situasi kota Khartaoum menjadi sangat kritis. Pengikut Mahdi telah mendekati ibu kota tersebut. Mahdi mendesak Gordon untuk menyerahkan dirinya kepada Mahdi namun tidak ada jawaban dari Gordon kemudian Mahdi mendesak sekali lagi agar Gordon menyerah namun menolak. Akhirnya gordon bersama tentaranya di kepung oleh kaum Mahdi. Pada 25 Januari 1885, orang sudan yang dipimpin oleh Mahdi, yang menganggap dirinya penerus muhamad, merebut khartoum dan membunuh Jenderal Gordon, yang telah diutus untuk memimpin pasukan Mesir.[3]
 Pada 1898, Inggris, dilengkapi dengan senapan mesin memberondong kaum Muslimin yang menyerang di Omdurman. Korban dilaporkan sebelas ribu Muslim dan dua puluh delapan pasukan Inggris. Berita tentang jatuhnya kota Khartoum dan kematian Gordon membuat hati ratu Victoria bergetar dan suara publik Gordon membela kematian Inggris. Setelah Gladstone jatuh maka naiklah Salisbury untuk menjabat perdana menteri baru dan ia melanjutkan politik Gladstone . Beberapa bulan Khartoum jatuh, Mahdi meninggal dunia. Pemerintahan Sudan dipegang oleh anaknya, Khalifa ‘Abd Allahi el Tarishi. Selama tiga belas tahun Sudan menjadi negara merdeka. Pada 1896 timbullah perselisihan lagi tentang Sudan.








BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
ketika terusan Suez di buka Inggris menaruh perhatian terhadap Mesir karena mereka menyadari bahwa Terusan Suez adalah jalan menuju ke India dan Mesir adalah sebuah kedai ke jalan itu. Ketika Khedevi Ismail mengalami kebangkrutan, ia menjual saham terusan Suez dan tentu saja Inggris tidak melewatkan kesempatan itu. Namun uang yang digunakan untuk menutup kekurangan kas negeri tidaklah cukup sehingga Khedevi Ismail mengajukan peminjaman kepada Perancis dan Inggris yang dimana nanti timbul pembaharuan yang memberatkan tuan tanah di Mesir. Sehingga menyebabkan turunnya Khedevi Ismail. Ia digantikan oleh anaknya. Saat Tewfik berkuasa muncullah gerakan nasionalisme yang dipimpin oleh Ahmad Arabi. Namun gerakan tersebut berhasil dipadamkan pada tahun 1882. Sebelum terjadinya gerakan nasionalisme yang dipimpin oleh Ahmad Warabi. Sudah juga muncul perlawanan oleh Mahdi, seorang guru agama yang melawan tindakan Mesir dan Inggris yang ingin menguasai Sudan. Sebelum Khedevi Ismail turun dari jabatannya, ia mempunyai cita-cita untuk meluaskan kekuasaannya ke Sudan sebelah selatan. Namun peluasan ini tidak berjalan mulus. Muncullah pemberontakan yang dipimpin oleh Mahdi. Pemberontakan yang melentus pada tahun 1881. Mahdi berhasil melangsungkan revolusi selama tiga tahun dengan hasil yang gemilang. Ketika Mahdi berhasil menguasai Khartoum maka ditariknya kembali tentara Inggris-Mesir dari Sudan pada 1885, maka berakhirlah pertentangan taraf pertama antara Inggris-Mesir di satu pihak dan Sudan di pihak lainnya

B.     Saran
Demikanlah makalah ini kami buat, semoga bermanfaat bagi kita semua terutama bagi pemakalah sendiri. Kami menyadari dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kesalahan atau kekurangan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca.



DAFTAR PUSTAKA

                     
Soeratman,Darsiti.2012. Sejarah Afrika.Yogyakarta : Ombak
Encyclopedia ,  Amerikana. 1997. Jilid 10 Egypt. Glorier Incorporated



[1] Darsiti Soeratman, sejarah Afrika, Yogyakarta: Ombak, h. 59
[2]  Ibid. h. 62-63
[3] Ibid. h. 71-72

1 komentar: